A. KETERBUKAAN

a. Pengertian keterbukaan

Menurut Tubbs & Moss (2000:12) keterbukaan diri adalah memberikan informasi tentang diri sendiri yang disengaja kepada orang lain. Keterbukaan diri dapat dilakukan melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada suara, dan melalui isyarat-isyarat nonverbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Mengacu pada prinsip law of reciprocity yaitu sebuah keterbukaan dari seorang individu akan mengawali keterbukaan dari individu lainnya, keterbukaan dari seorang individu akan membantu individu lainnya pula untuk membuka diri karena merasa ada sebuah kepercayaan yang diberikan. Keterbukaan dilakukan dengan mengkomunikasikan apa yang ada dipikirkan dan dirasakan mengenai dirinya sendiri dan orang lain.

(contoh keterbukaan antara sesame teman yang sedang bercerita)

b. Karakteristik keterbukaan

Keterbukaan diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan informasi diri kepada orang lain yang bertujuan untuk mencapai hubungan yang akrab. Ada lima karakteristik keterbukaan diri yang dikemukakan oleh Wheeless & Grotz (1977:252), yaitu :

  1. Niat, merupakan kesungguhan dalam melakukan keterbukaan diri. Individu menyadari apa yang dikatakan dan diungkapkan kepada orang lain.
  2. Jumlah (keluasan), berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memberikan informasi dengan siapa saja, baik orang yang baru dikenal, teman biasa, orangtua atau saudara dan teman dekat.
  3. Positif atau negatif, berkaitan dengan informasi yang diungkapkan seseorang tentang dirinya, ada informasi yang positif dan informasi yang negatif tergantung kepada siapa seseorang tersebut melakukan keterbukaan diri.
  4. Kedalaman, berkaitan dengan topik yang akan dibicarakan baik bersifat umum maupun khusus. Umum dan khususnya individu menginformasikan dirinya tergantung pada siapa yang hendak diajak bicara. Semakin akrab hubungan seseorang dengan orang lain, maka semakin terbuka individu kepada orang tersebut, demikian pula sebaliknya.
  5. Kejujuran atau Ketepatan, berkaitan dengan kebenaran dari informasi yang diungkapkan oleh seseorang kepada orang lain. Semakin akrab hubungan individu dengan orang lain maka akan semakin jujur pula individu tersebut terbuka tentang dirinya.

c. Dampak positif dan negatif keterbukaan

Menurut Derlega (dalam Taylor dkk, 2009:336) mengungkapkan, dampak negatif dan piitif yang terjadi saat melakukan keterbukaan diri antara lain :

  1. Pengabaian, yaitu seseorang yang berbagi sedikit informasi dengan orang lain saat mengawali suatu hubungan. Terkadang pengungkapan diri yang dilakukan oleh orang tersebut di balas dengan pengungkapan diri orang lain dan hubunganpun berkembang. Tetapi, ada juga seseorang yang menyadari bahwa orang lain tidak peduli pada pengungkapan dirinya dan sama sekali tidak tertarik untuk mengenal dirinya.
  2. Penolakan, yaitu informasi diri yang diungkapkan oleh seseorang yang mungkin dapat menimbulkan penolakan sosial.
  3. Hilangnya control, yaitu orang lain yang memanfaatkan informasi yang di berikan oleh seseorang kepada mereka untuk menyakiti atau mengontrol perilaku seseorang tersebut.
  4. Pengkhianatan, yaitu seorang individu yang mengungkapkan informasi yang bersifat pribadi kepada orang lain dan individu tersebut sering berasumsi atau bahkan secara tegas meminta agar informasi itu di rahasiakan. Namun, orang lain sebagai tempat individu tersebut mengungkapkan diri terkadang berkhianat.

d. Fungsi keterbukaan diri

Menurut Derlega & Grzelak; Omarzu (dalam Taylor dkk, 2009:334), membuka informasi kepada orang lain karena beberapa alasan utama, yaitu :

  1. Penerimaan sosial. Seseorang mengungkapkan informasi tentang dirinya untuk meningkatkan penerimaan sosial dan agar disukai oleh orang lain.
  2. Pengembangan hubungan. Berbagi informasi dan keyakinan pribadi adalah salah satu cara untuk memulai hubungan dan membuat hubungan tersebut menjadi lebih akrab..
  3. Ekspresi diri. Terkadang seseorang berbicara tentang perasaannya untuk melepaskan himpitan di dada dan mengungkapkan perasaan agar dapat menghilangkan stres.
  4. Klarifikasi diri. Dalam proses berbagi perasaan atau pengalaman pribadi kepada orang lain, seseorang mungkin dapat pemahaman dari kesadaran yang lebih luas. Berbicara kepada orang lain tentang masalah yang sedang dihadapi mungkin bisa membantu menjelaskan pemikiran tentang situasi.
  5. Kontrol sosial. Seseorang mungkin mengungkapkan atau menyembunyi kan informasi tentang dirinya sebagai alat kontrol sosial

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbukaan

Keterbukaan terjadi lebih lancar dalam situasi-situasi tertentu dibandingkan situasi yang lain. Dalam DeVito (1997:62), ada beberapa faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri, yaitu:

  1. Rasa suka, seorang individu membuka dirinya kepada orang-orang yang disukai atau dicintai, dan tidak akan membuka diri kepada orang yang tidak disukai.
  2. Norma berbalasan, seseorang individu melakukan keterbukaan diri bila orang yang bersamanya juga melakukan keterbukaan diri.
  3. Kepribadian, orang-orang yang pandai bergaul dan ekstrovert melakukan keterbukaan diri lebih banyak ketimbang mereka yang kurang pandai bergaul dan introvert.
  4. Jenis kelamin, faktor terpenting yang mempengaruhi keterbukaan diri adalah jenis kelamin. Umumnya wanita lebih terbuka daripada pria.
  5. Besar kelompok, keterbukaan diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil daripada kelompok besar.
  6. Topik, seseorang cenderung membuka diri tentang topik tertentu daripada topik yang lain