A. PENYESUAIAN DIRI

a. Definisi penyesuaian

Pengertian penyesuaian diri menurut Charles Darwin ialah tingkah laku manusia yang dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup, seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup (dalam Fatima, 2008).

Penyesuaian diri menurut Lazarus (1976:11) adalah suatu proses perubahan dalam diri dan lingkungan, di mana individu harus dapat mempelajari tindakan atau sikap baru untuk hidup dan menghadapi keadaan tersebut sehingga tercapai kepuasan dalam diri, hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Menurut Mustofa (1982:24) penyesuaian diri adalah proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah kekuatan agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri dan lingkungannya, sehingga mempunyai kemampuan untuk mengadakan hubungan yang memuaskan antara orang dan lingkungannya, sedangkan menurut Hurlock (1999:278) agar individu dapat menyatu dan diterima dalam kelompok maka individu harus berusaha memperbaiki perilakunya dengan menyesuaikan diri.

b. Aspek-aspek penyesuaian diri

Menurut Danuri dan Tidjan (1991:22) aspek-aspek penyesuaian diri meliputi:

  1. Aspek afektif emosional, yakni perasaan aman, percaya diri, bersemangat, bersahabat, perhatian, tidak menghindar, mampu memberi dan menerima cinta, dan
  2. Aspek perkembangan intelektual atau kognitif, yakni kemampuan memahami diri dan orang lain, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan melihat kenyataan
  3. Aspek perkembangan sosial, yakni pengembangan potensi, kemandirian, fleksibelitas, partisipasi, dan

c. Jenis-jenis penyesuaian diri

Menurut Hariyadi (1995) penyesuaian diri dibedakan menjadi positif dan negatif yaitu:

  1. Penyesuaian diri positif

Penyesuaian diri yang positif ditandai dengan:

    1. Kemampuan menerima dan memahami kelebihan dan kelemahan
    2. Kemampuan menerima dan menilai lingkungan di luar dirinya secara baik.
    3. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi diri dan kenyataan di luar
    4. Kemampuan bertindak secara dinamis, luwes, dan tidak
    5. Dapat bertindak sesuai dengan potensi-potensi yang layak dikembangkan, sehingga dapat menerima dan diterima
    6. Rasa hormat dan toleran pada
    7. Kesanggupan mengontrol dan mengendalikan
    8. Kesanggupan bertindak secara terbuka dan sanggup menerima
    9. Dapat bertindak sesuai dengan norma hidup yang
    10. Kepercayaan terhadap sesuatu di luar
  1. Penyesuaian diri yang negatif

Tanda-tanda akan ciri-ciri penyesuaian diri yang negatif antara lain adalah:

    1. Reaksi bertahan: individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan padahal sebenarnya ia mengalami Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan.
    2. Reaksi menyerang: orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi Ia tidak mau menyadari kegagalannya.
    3. Reaksi melarikan diri: dalam reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

Menurut Hariyadi (1995) mengatakan bahwa pada dasarnya penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yaitu:

  1. Faktor-faktor internal meliputi:
    • Faktor motif, yaitu motif-motif sosial seperti motif berafiliasi, motif berprestasi, dan motif
    • Faktor harga diri remaja, yaitu bagaimana remaja itu memandang tingkatan dirinya, remaja dengan harga diri tinggi akan lebih memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian yang menyenangkan dibandingkan remaja dengan harga diri
    • Faktor persepsi remaja, yaitu pengamatan dan penilaian remaja terhadap objek peristiwa dan kehidupan, baik melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang objek
    • Faktor sikap remaja, yaitu remaja yang bersikap positif terhadap sesuatu yang dihadapi akan lebih memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian diri dari pada remaja yang sering bersikap negatif atau suka menyangkal tatanan yang lebih
    • Faktor intelegensi dan minat, yaitu kemampuan untuk menalar, menganalisis dan menyimpulkan berdasarkan argumentasi yang matang dapat menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian diri. Faktor minat mempunyai pengaruh lebih nyata bila remaja telah memiliki minat terhadap sesuatu, proses penyesuaian biasanya bisa cepat dan
  1. Faktor-faktor eksternal, meliputi:

Faktor keluarga, terutama pola asuh
Pada dasarnya pola asuh dengan suasana keterbukaan lebih memberikan peluang bagi remaja untuk melakukan proses penyesuaian diri secara efektif dibanding dengan pola asuh keluarga yang pola asuh yang bebas. Demikian pula keluarga sehat dan utama akan lebih memberi pengaruh positif terhadap penyesuaian diri remaja.

  • Faktor kondisi sekolah
    Kondisi sekolah yang sehat adalah yang membuat remaja merasa bangga terhadap sekolahnya, hal ini merupakan landasan untuk dapat menyesuaikan diri.
  • Faktor kelompok sebaya
    Kelompok-kelompok teman sebaya ini adalah yang menguntungkan pengembangan proses penyesuaian diri, tetapi ada pula yang justru menghambat proses penyesuaian diri remaja.
  • Faktor prasangka sosial
    Ada kecenderungan sebagian masyarakat untuk menaruh prasangka terhadap para remaja, misalnya dengan memberi label, nakal, sukar diatur, suka menentang orangtua, malas, dan semacamnya. Prasangka sosial semacam itu jelas tidak hanya menjadi kendala proses penyesuaian diri remaja, merupakan sumber  frustasi dan konflik bagi remaja tersebut.
  • Faktor hukum dan norma sosial
    Yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan penegakan hukum dan norma-norma sosial yang berlaku. Mudah dipahami kiranya bahwa faktor ketidakpastian hukum dan dilecehkannya norma-norma sosial akan sangat berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri remaja

e. Hal-hal yang menyebabkan seseeorang diterima atau ditolak dalam pertemanan

Menurut Mappiare (1982:170), menyatakan hal-hal yang menyebabkan seseorang remaja diterima dalam pertemanannya adalah sebagai berikut:

  1. Penampilan dan perbuatan meliputi antara lain: tampang yang baik atau rapi serta keaktifan dalam urusan-urusan
  2. Kemampuan berfikir meliputi: mempunyai inisiatif, banyak memikirkan kepentingan kelompok dan mengemukakan buah
  3. Sikap, sifat dan perasaan meliputi: bersikap sopan, memperhatikan orang lain, penyabar atau dapat menahan marah jika berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya, suka menyumbangkan pengetahuannya pada orang lain terutama kepada anggota kelompok yang
  4. Pribadi meliputi: jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan pekerjaannya, mentaati peraturan-peraturan kelompok, mampu menyesuaikan diri secara tepat dalam berbagai situasi dan pergaulan
  5. Aspek lain meliputi: pemurah atau tidak pelit, suka bekerjasama dan membantu anggota

Mappiare (1982:172) mengatakan hal-hal yang menyebabkan seorang remaja ditolak oleh lingkungannya adalah sebagai berikut:

  1. Penampilan dan perbuatannya: tidak rapi, sering menentang, malu-malu, dan senang
  2. Kemampuan berfikirnya: bodoh sekali atau sering disebut “tolol”.
  3. Sikap dan sifatnya: suka melanggar norma dan nilai-nilai kelompok, suka menguasai anak lain, suka curiga, dan suka memaksakan kemauan
  4. Faktor lain: rumah yang terlalu jauh dari tempat bermain

f. Penyesuaian Diri Terhadap Teman Sebaya Di

Menurut Yulianingrum (2010) penyesuaian diri terhadap teman sebaya amat penting bagi perkembangan siswa, terutama perkembangan sosial. Dalam proses penyesuaian diri terhadap teman sebaya, siswa dihadapkan pada masalah penerimaan atau penolakan akan kehadirannya dalam pergaulan. Apabila siswa sampai ditolak oleh teman sebayanya ia akan mengalami kekecewaan, dalam menghindarinya siswa perlu memiliki sikap, perasaan, keterampilan perilaku yang dapat menunjang penerimaan kelompok teman sebaya.

Siswa akan menyesuaikan diri ke arah yang lebih mantap, meskipun dalam usaha penyesuaian diri dengan teman sebaya lebih banyak harus mengalahkan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok, dengan alasan takut dikucilkan. Namun demikian secara lambat laun siswa mengalami kestabilan dan timbulnya rasa percaya diri lewat pergaulan tersebut. Dapat dikatakan bahwa dalam penyesuaian diri terhadap teman sebaya, siswa berhubungan atau bergaul dengan teman sebaya dalam rangka melepaskan ketergantungan dan pertentangan yang sering terjadi dengan orang tuanya.